Asal Usul di Tegiri
Sejarah Krumpyung bukanlah tentang ambisi besar, melainkan tentang kasih sayang seorang ayah. Bermula dari tangisan Witra Purbadi kecil yang merengek meminta dibuatkan alat musik serupa yang didengarkannya dari radio kepada ayahnya, Bapak Sumitro. Meski tak memiliki latar belakang sebagai pengrajin musik, Pak Sumitro melakukan cara pembuatan serta berbagai eksperimen mandiri dan mulai dari menentukan nada, merancang rancakan (kerangka), hingga detail teknis layaknya Gamelan Jawa.
Karena keterbatasan biaya dan bahan baku logam kala itu, Pak Sumitro memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah di sekitarnya, yaitu Bambu. Dari kreativitas dalam keterbatasan inilah, lahir sebuah instrumen unik yang kemudian dikenal sebagai Krumpyung.
Lahir pada tahun 1973 di kawasan sekitar Waduk Sermo, di tengah dusun yang belum tersentuh listrik maupun media massa, Krumpyung menjadi magnet sosial. Bunyinya yang khas mengundang warga untuk berkumpul, menjadikannya sarana silaturahmi dan pertukaran gagasan yang melahirkan berbagai pemikiran kreatif. Krumpyung menjadi nyawa bagi Tari Incling. Berbeda dengan Jathilan yang lebih menonjolkan tarian, Incling dengan iringan Krumpyung memiliki alur drama "Cerita Panji" (kepahlawanan), lengkap dengan percakapan, gending, dan tembang di setiap adegannya
Berawal dari penampilan menyambut tamu UNESCO di Yogyakarta dalam rangka kongres bahasa jawa, Krumpyung mulai dikenal luas. Puncaknya pada rentang tahun 1996-1997, kesenian ini terbang ke Prancis dan Swiss dalam festival musik internasional. Maestro seperti Jaduk Ferianto dan Sabto Raharjo (Kua Etnika) bahkan membawa Krumpyung berkolaborasi dengan musisi Eropa, membuktikan bahwa nada bambu tradisional mampu bersanding harmonis dengan instrumen modern dunia.
Banyak yang menyamakan Krumpyung dengan Angklung, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar pada sistem nadanya:
Laras Pentatonis: Berbeda dengan Angklung umum yang bernada diatonis (do-re-mi), Krumpyung menggunakan tangga nada tradisional Jawa (Ji-Ro-Lu-Mo-Nem).
Embat (Karakter Nada): Tidak ada standarisasi kaku; setiap set Krumpyung memiliki "embat" atau tinggi-rendah nada yang disesuaikan dengan karakter pemesan atau empunya (dahulu), membuat setiap instrumen bersifat sangat personal.
Bahan Baku Pilihan: Menggunakan tiga jenis bambu utama untuk kualitas suara terbaik: Bambu Apus, Bambu Hitam, dan Bambu Petung.
Bagi masyarakat Hargowilis, Krumpyung adalah identitas. Ia telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) asli Kulon Progo. Melalui sanggar-sanggar lokal, tradisi ini terus dijaga melalui latihan rutin dan regenerasi, termasuk program penyelamatan seni angklung/krumpyung pada 2011-2014 yang melibatkan puluhan mahasiswa.